Menyusun paduan pengobatan TB-MDR

Prinsip dasar yang diperlukan untuk menyusun paduan pengobatan TBMDR adalah :

  1. Pemilihan regimen berdasarkan riwayat pemakaian obat oleh pasien sebelumnya.
  2. Menggunakan obat-obatan yang biasa digunakan di negara tersebut; sebaiknya diketahui prevalensi resistensi OAT lini pertama dan kedua sebelum menyusun regimen pengobatan.
  3. Regimen sebaiknya terdiri dari sedikitnya empat obat yang masih atau hampir efektif. Apabila harus memakai obat yang belum diketahui efektivitasnya maka obat tersebut dapat digunakan tetapi jangan dipakai sebagai obat utama.
  4. Jika mungkin, pirazinamid, etambutol dan fluorokuinolon diberikan satu kali sehari karena lebih efektif. Pemberian dosis OAT lini kedua lainnya satu kali perhari tergantung toleransi pasien. Etionamid/protionamid, sikloserin dan PAS diberikan dalam dosis terbagi untuk menghindari efek samping.
  5. Dosis obat sebaiknya berdasarkan berat badan.
  6. Efek samping harus dikenali dan ditatalaksana dengan segera untuk mencegah putusnya obat dan mencegah morbiditas dan mortalitas akibat efek samping.
  7. Obat suntik (aminoglikosida atau kapreomisin) digunakan minimal selama enam bulan dan sekurangkurangnya empat bulan setelah konversi kultur.
  8. Minimum lama pengobatan adalah 18 bulan setelah konversi kultur.
  9. Pengobatan yang diberikan adalah pengawasan menelan obat langsung (DOT).
  10. Hasil uji sensitivitas obat harus dapat dipercaya (dari laboratorium yang terpercaya) dan digunakan sebagai paduan pengobatan.
  11. Pirazinamid dapat digunakan selama pengobatan apabila dinilai efektif; seperti pada pasien TBMDR dengan inflamasi paru kronik yang secara teori memiliki suasana lingkungan asam dimana pirazinamid dapat bekerja aktif. Sebagai alternatif, pemberian pirazinamid dapat dihentikan bersamaan dengan fase injeksi jika pasien dapat melanjutkan fase berikutnya dengan sedikitnya tiga OAT yang dinilai efektif.
  12. Deteksi dini TB-DR dan memulai pengobatan segera adalah salah satu kunci keberhasilan pengobatan.
  13. Jangan mengunakan siprofloksasin sebagai OAT.

Kelompok OAT yang digunakan dalam pengobatan TB-MDR Harus digunakan secara hirarki; pilih dahulu kelompok satu, kemudian secara berurutan pilihan terakhir kelompok 5, perlu diketahui kelompok 4 tidak tersedia di Indonesia.

  1. Kelompok 1 : OAT lini 1. Isoniazid (H), Rifampisin (R), Etambutol (E), Pirazinamid (Z), Rifabutin (Rfb).
  2. Kelompok 2 : Obat suntik. Kanamisin (Km), Amikasin (Am), Kapreomisin (Cm), Streptomisin (S).
  3. Kelompok 3 : Fluorokuinolon. Moksifloksasin (Mfx), Levofloksasin (Lfx), Ofloksasin (Ofx).
  4. Kelompok 4 : Bakteriostatik OAT lini kedua : Etionamid (Eto), Protionamid (Pto), Sikloserin (Cs), Terzidone (Trd), PAS.
  5. Kelompok 5: Obat yang belum diketahui efektivitasnya : Klofazimin (Cfz), Linezolid (Lzd), Amoksiclav (Amx/clv), Tiosetazone (Thz), Imipenem/cilastin (Ipm/cln), H dosis tinggi, Klaritromisin (Clr).

Lama fase intensif
Pemberian obat suntik atau fase intensif yang direkomendasikan adalah berdasarkan konversi kultur. Obat suntik diteruskan sekurang-kurangnya 6 bulan dan minimal 4 bulan setelah hasil sputum atau kultur pertama yang menjadi negatif. Pendekatan individual termasuk hasil kultur, sputum, foto toraks dan keadaan klinis pasien juga dapat membantu memutuskan penghentian pemakaian obat suntik.

Lama pengobatan
Lamanya pengobatan berdasarkan konversi kultur. Panduan yang direkomendasikan adalah meneruskan pengobatan minimal 18 bulan setelah konversi kultur. Sampai saat ini belum ada data yang mendukung pengurangan lama pengobatan. Pengobatan lebih dari 24 bulan dapat dilakukan pada kasus kronik dengan kerusakan paru luas.

Pengobatan tambahan

  1. Pendukung nutrisi. Pasien TBDR sering mengalami malnutrisi, selain itu OAT lini kedua dapat menyebabkan penurunan nafsu makan. Vitamin B6, vitamin A dan mineral sebaiknya ditaitambahkan dalam diet sehari-hari.
  2. Kortikosteroid. Diberikan pada gangguan pernapasan berat, keterlibatan SSP atau perikard. Prednison diberikan mulai 1 mg/kgbb., dinaikkan 10 mg/minggu apabila akan diberikan dalam jangka lama

langkah langkah-langkah2

PENUTUP

Pengobatan TB-MDR sangat kompleks; tidak ada satu strategi yang baik untuk semua situasi. Epidemiologi, biaya dan operasional harus dipertimbangkan sebelum menentukan strategi pengobatan. Pengobatan TB-MDR harus dilakukan oleh pusat spesialis dengan fasilitas laboratorium mikrobiologi yang terstandarisasi. Pada pengobatan TB-MDR digunakan strategi DOTS-PLUS.

Program TB Nasional harus meliputi penemuan kasus secara agresif, diagnosis secara cepat dan tepat, serta penyedian OAT lini kedua secara berkesinambungan. Sarana dan prasarana untuk pemeriksaan penunjang terutama biakan dan uji kepekaan harus tersedia di berbagai daerah. Peningkatan kasus TB-MDR menunjukkan kegagalan program TB Nasional.

Priyanti Z. Soepandi
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI- RSUP Persahabatan, Jakarta, Indonesia. 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s