FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA TB – MDR

Kegagalan pengobatan poliresisten TB atau TB-MDR akan menyebabkan lebih banyak kuman yang resisten terhadap OAT. Kegagalan ini bukan hanya merugikan pasien tetapi juga meningkatkan penularan di masyarakat. TB resisten obat anti TB (OAT) pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia, sebagai akibat dari pengobatan pasien TB tidak adekuat yang menyebabkan terjadinya penularan dari pasien TB-MDR ke orang lain / masyarakat.

Faktor penyebab resistensi kuman M. tuberculosis terhadap OAT antara lain:

FAKTOR MIKROBIOLOGIK

  • Resisten yang – jarang terjadi misalnya resistensi terhadap rifampicin
  • Resisten yang didapatVirulensi kuman
  • Tertular galur kuman -MDR

FAKTOR KLINIK

Penyelenggara kesehatan

  1. Keterlambatan diagnosis
  2. Pengobatan tidak mengikuti
  3. Penggunaan paduan OAT tidak adekuat yaitu karena jenis obatnya yang kurang, atau karena di lingkungan tersebut telah terdapat resistensi yang tinggi terhadap OAT yang digunakan misal rifampisin atau INH
  4. Tidak ada guideline
  5. Tidak ada / kurangnya pelatihan TB
  6. Tidak ada pemantauan pengobatan
  7. Fenomena addition syndrome yaitu suatu obat ditambahkan pada satu paduan yang telah gagal. Bila kegagalan ini terjadi karena kuman tuberkulosis telah resisten pada paduan yang pertama maka penambahan 1 jenis obat tersebut akan menambah panjang daftar obat yang resisten.
  8. Organisasi program nasional TB yang kurang baik.

Obat

  1. Pengobatan TB jangka waktunya lama lebih dari 6 bulan sehingga membosankan pasien.
  2. Obat toksik menyebabkan efek samping sehingga pengobatan kompllit atau sampai selesai gagal.
  3. Obat tidak dapat diserap dengan baik misal rifampisin diminum setelah makan, atau ada diare.
  4. Kualitas obat kurang baik misal penggunaan obat kombinasi dosis tetap yang bioavaibilitas rifampisinnya berkurang.
  5. Regimen / dosis obat tidak tepat.
  6. Harga obat tidak terjangkau.
  7. Pengadaan obat terputus.

Pasien

  1. PMO tidak ada / kurang baik.
  2. Kurangnya informasi atau penyuluhan.
  3. Kurang dana untuk obat, pemeriksaan penunjang dll.
  4. Efek samping obat.
  5. Sarana dan prasarana transportasi sulit / tidak ada.
  6. Masalah sosial.
  7. Gangguan penyerapan obat.

FAKTOR PROGRAM

  1. Tidak ada fasilitas untuk biakan dan uji kepekaan
  2. Amplifier effect
  3. Tidak ada program DOTS-PLUS
  4. Program DOTS belum berjalan dengan baik
  5. Memerlukan biaya besar

FAKTOR AIDS–HIV

  1. Kemungkinan terjadi TB-MDR lebih besar
  2. Gangguan penyerapan
  3. Kemungkinan terjadi efek samping lebih besar

FAKTOR KUMAN

Kuman M. tuberculosis super strains : Sangat virulen, daya tahan hidup lebih tinggi, berhubungan dengan TB-MDR
Kategori Resistensi M tb terhadap OAT:
Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :

  1. Mono-resistance : kebal terhadap salah satu OAT.
  2. Poly-resistance : kebal terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan rifampisin.
  3. Multidrug-resistance (MDR) : kebal terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan rifampisin.
  4. Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kebal terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, amikasin)

PENATALAKSANAAN TB – MDR STRATEGI DOTS PLUS

Pada penatalaksanaan TB-MDR yang diterapkan adalah strategi DOTSplus.
“S” diartikan strategi bukan short-course therapy, “Plus” yang dimaksud adalah menggunakan OAT lini kedua dan kontrol infeksi. Pengobatan jangka pendek untuk TB-MDR tidak tepat .

Merupakan suatu kenyataan bahwa pengobatan TB apapun, tulang punggungnya adalah penerapan strategi DOTS. Strategi DOTS diperlukan untuk mencegah resistensi dan pengobatan TB.
Strategi pengobatan Strategi program pengobatan sebaiknya berdasarkan data uji resistensi dan frekuensi penggunaan OAT di negara tersebut.

Beberapa strategi pengobatan TBMDR  :

  1. Pengobatan standar. Data (DRS) dari populasi pasien yang representatif digunakan sebagai dasar regimen pengobatan karena tidak tersedianya hasil uji resistensi individual. Seluruh pasien akan mendapatkan regimen pengobatan yang sama. Pasien yang dicurigai TB-MDR sebaiknya dikonfirmasi dengan uji resistensi.
  2. Pengobatan empiris. Tiap regimen pengobatan dibuat berdasarkan riwayat pengobatan tuerkulosis pasien sebelumnya dan data hasil uji resistensi populasi representatif.  Biasanya regimen empiris akan disesuaikan setelah hasil uji resistensi induvidual.
  3. Pengobatan individual. Regimen pengobatan berdasarkan riwayat pengobatan tuberkulosis sebelumnya dan hasil uji resistensi.

Priyanti Z. Soepandi
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
FKUI- RSUP Persahabatan, Jakarta, Indonesia. 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s