<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>nerscomite</title>
	<atom:link href="http://b11nk.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://b11nk.wordpress.com</link>
	<description>Community Nursing Improvement</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 11:16:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='b11nk.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/166f4ab9c29958f8a09b654c5f714d98?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>nerscomite</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://b11nk.wordpress.com/osd.xml" title="nerscomite" />
	<atom:link rel='hub' href='http://b11nk.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik ( GMT-PGK).</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/24/gangguan-mineral-dan-tulang-pada-penyakit-ginjal-kronik-gmt-pgk/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/24/gangguan-mineral-dan-tulang-pada-penyakit-ginjal-kronik-gmt-pgk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 11:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[1. Definisi Penyakit Ginjal Kronik Penyakit ginjal kronik ialah setiap kerusakan ginjal (kidney damage) atau penurunan Laju filtrasi glomerulus ( LFG/GFR/Glomerular Filtration Rate) kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2 untuk jangka waktu ≥ 3 bulan. Kerusakan ginjal adalah setiap kelainan patologis, atau petanda kerusakan ginjal, termasuk kelainan dalam darah, urin atau studi pencitraan. Tabel 1. Stadium [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=410&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.	Definisi Penyakit Ginjal Kronik<br />
Penyakit ginjal kronik ialah setiap kerusakan ginjal (kidney damage) atau penurunan Laju filtrasi glomerulus ( LFG/GFR/Glomerular Filtration Rate) kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2 untuk jangka waktu ≥ 3 bulan. Kerusakan ginjal adalah setiap kelainan patologis, atau petanda kerusakan ginjal, termasuk kelainan dalam darah, urin atau studi pencitraan.</p>
<p>Tabel  1. Stadium Penyakit Ginjal Kronik</p>
<p><a href="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide1.jpg"><img src="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Slide1" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-411" /></a><br />
<span id="more-410"></span><br />
2.	Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik ( GMT-PGK).</p>
<p>Gangguan mineral dan tulang pada penyakit ginjal kronik (GMT-PGK) ialah suatu sindrom klinik yang terjadi akibat gangguan sistemik pada metabolisme mineral dan tulang pada PGK. Sindrom ini mencakup salah satu atau kombinasi dari hal – hal berikut :<br />
a.	Kelainan laboratorium yang terjadi akibat gangguan metabolisme calsium, fosfat, HPT dan vitamin D.<br />
b.	Kelaianan tulang dalam hal turover, mineralisasi, volume, pertumbuhan linier dan kekuatannya.<br />
c.	Kalsifikasi vaskuler atau jaringan lunak lain.<br />
Klasifikasi GM&lt;T-PGK tergantung pada ada atau tidaknya salah satu atau kombinasi dari ketiga komponen di atas. (tabel 2.)</p>
<p>Tabel 2. Klasifikasi GMT-PGK</p>
<p><a href="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide2.jpg"><img src="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Slide2" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-412" /></a></p>
<p>L : Laboratorium<br />
T : Tulang<br />
K : Kalsifikasi vaskuler</p>
<p>3.	Osteodistrofi Renal<br />
Osteodistrofi renal (OR) merupakan gangguan morfologi tulang pada PGK. OR merupakan salah satu pemeriksaan komponen skeletal dari suatu gangguan sistemik GMT-PGK yang dapat diukur (quantifiable) melalui pemeriksaan histomorfometri dari biopsi tulang.</p>
<p> <br />
4.	Definisi Hiperfosfatemia<br />
Hiperfosfatemia adalah kadar fosfat darah ˃4,6 mg/dl. Kadar fosfat darah normal adalah 2,5 – 4,5 mg/dl. Pada pasien hemodialisis atau dialisis peritoneal, kadar fosfat darah hendaknya dipertahankan antara 3,5 – 5,5 mg/dl.</p>
<p>5.	Definisi Hipocalsemia<br />
Hipocalsemia adalah kadar calsium total darah ˂ 8 mg/dl. Kadar calsium total darah normal adalah 8,4 – 9,5 mg/dl.</p>
<p>6.	Definisi Hipercalsemia</p>
<p>Hipercalsemia ialah kadar calsium total darah ˃ 10 mg/dl.<br />
Calsium dalam darah ada dalam 3 bentuk yait7u :<br />
-	Calsium terionisasi ( 48 % )<br />
-	Calsium yang terikat pada protein ( 40 % ).<br />
-	Calsium kompleks yang terikat dengan anion lain speerti fosfat, citrat dan bikarbonat ( 12 % ).<br />
Dalam praktek klinik yang dipaki adalah calsium total ( jumlah dari ketiga bentuk tersebut).<br />
Dalam keadaan kadar albumin plasma abnormal, calsium total tidak merefleksikan kadar yang sebenatrnya, oleh karena itu dilakukan koreksi terhadap hasil pengukuran. Hasil yang di dapat disebut calsium koreksi (corrected Ca).<br />
Rumus koreksi adalah sebagai berikut :</p>
<p><a href="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide4.jpg"><img src="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide4.jpg?w=300&#038;h=38" alt="" title="Slide4" width="300" height="38" class="alignnone size-medium wp-image-413" /></a></p>
<p>7.	Definisi Produk calsium – fosfat ( calsium – phosphorus product, Ca x P Product)<br />
Produk calsium-fosfat ialah hasil perkalian antara kadar fosfat darah ( dalam mg/dl) dan kadar calsium total darah (mg/dl). Nilai produk calsium-fosfat ini harus dipertahankan ˂ 55 mg2/dl2.</p>
<p>8.	Definisi Hiperparatiroid Sekunder<br />
Hiperparatiroid sekunder ( HiperPTS) ialah kadar hormon paratiroid intak (HPTi) lebih dari kadar normal pada PGK. Kadar HPTi pada populasi normal berkisar antara 10,4 – 68 pg/ml. Kadar ini terdapat pada turnover tulang yang normal. Pada PGK nilai ini bervariasi karena adanya peningkatan resistensi skelet terhadap HPTi, sehingga kadar optimalnya tergantung pada derajat PGK.</p>
<p>Tabel. Kadar Optimal HPYi pada PGK</p>
<p><a href="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide3.jpg"><img src="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide3.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Slide3" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-414" /></a><br />
 <br />
9.	Definisi Kalsifikasi Vaskuler pada GMT-PGK<br />
Kalsifikasi vaskuler pada GMT-PGK ( stadium 5 ) ialah penimbunan calsium-fosfat yang terutama terjadi pada tunika media pembuluh darah. Kalsifikasi vaskuler ini berkaitan erat dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler pada PGK.<br />
Faktor risiko kalsifikasi vaskuler dicantumkan pada lampiran 4.</p>
<p>PENJELASAN</p>
<p>1.	Dengan memburuknya fungsi ginjal, terjadi gangguan homeostasis mineral yang peogesif, terlihat dari abnormalitas kadar calsium, fosfat, dan perubahan hormon (HPTi, 1,25-dihydroxyvitamin D, fibroblast growth factor -23 (FGF-23) dan hormon pertumbuhan. Gangguan mineral dan tulang ditemukan pada sebagain besar pasien PGK stadium 3 – 5 dan secara universal dialami pasien PGK stadium 5 yang menjalani dialisis.</p>
<p>2.	Belakangan ini banyak perhatian ditujukan kjepada kjalsifikasi ekstraskeletal yang disebabkan oleh gangguan metabolisme mineral pada PGK serta akibat terapi yang diberikan untuk mengoreksi gangguan tersebut ( misalnya pemberian obat pengikat fosfat yang mengandung calsium, dan terapi vitamin D yang kurang tepat ).</p>
<p>3.	Dsefinisi tradisional “osteodistrofi renal (OR ) “ tidak mewakili spektrum klinik yang luas berdasarkan petanda (marker) serum, pencitraan non-invasif dan gangguan tulang. Kidney disease : Improving Global Outcomes ( KDIGO) menganjurkan untuk menggunakan istilah “ CKD-Mineral and Bone Disorder ( CKD-MBD), buku ini menggunbakan istilah Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik (GMT-P)GK). Untuk menggambarkan sindrom klinik yang lebih luas dari penyakit ini. KDIGO merekomendasikan agar istilah OR digunakan terbatas untuk menggambarkan patologi tulang terkait dengan PGK.</p>
<p>Daftar Pustaka :<br />
Konsensus Pernefri 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/410/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=410&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/24/gangguan-mineral-dan-tulang-pada-penyakit-ginjal-kronik-gmt-pgk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slide1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slide2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slide4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://b11nk.files.wordpress.com/2012/01/slide3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slide3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2011 in review</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/13/2011-in-review/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/13/2011-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 08:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog. Here&#8217;s an excerpt: The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 38.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 14 sold-out performances for that many [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=405&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.</p>
<p>	<a href="/2011/annual-report/"><img src="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" width="100%" alt="" /></a></p>
<p>Here&#8217;s an excerpt:</p>
</p>
<blockquote><p>The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people.  This blog was viewed about <strong>38.000</strong> times in 2011.  If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 14 sold-out performances for that many people to see it.</p></blockquote>
<p><a href="/2011/annual-report/">Click here to see the complete report.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=405&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2012/01/13/2011-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>STANDAR  ASUHAN  KEPERAWATAN PASIEN ANEMIA</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/10/29/standar-asuhan-keperawatan-pasien-anemia-2/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/10/29/standar-asuhan-keperawatan-pasien-anemia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 05:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ANEMIA BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin dan volume pada sel darah merah ( hematokrit per 100 ml darah ). Anemia dapat diklasifikasikan menurut : 1. Morfologi sel darah merah dan indeks – indeksnya 2. Etiologi Klasifikasi anemia menurut morfologi mikro dan makro [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=396&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>STANDAR  ASUHAN  KEPERAWATAN<br />
PASIEN ANEMIA</p>
<p>BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p>     A.	Pengertian<br />
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin dan volume pada sel darah merah ( hematokrit per 100 ml darah ).<br />
Anemia dapat diklasifikasikan menurut :<br />
1.	Morfologi sel darah merah dan indeks – indeksnya<br />
2.	Etiologi</p>
<p>Klasifikasi anemia menurut morfologi mikro dan makro menunjukkan ukuran sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Ada tiga klasifikasi besar yaitu :</p>
<p>1.	Anemia normositik normokrom adalah ukuran  dan bentuk sel – sel darah merah normal  serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal ( MCV dan MCHC normal atau rendah )</p>
<p>2.	Anemia makrositik normokrom adalah ukuran sel – sel darah merah lebih besar dari normal tetapi konsentrasi hemoglobin normal ( MCV meningkat, MCHC normal )</p>
<p>3.	Anemia mikrositik hipokrom ukuran sel – sel darah kecil mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal ( MCV maupun MCHC kurang ).</p>
<p>Yang termasuk dalam kategori anemia mikrositik hipokrom adalah anemia  defisiensi bisa terjadi akibat kekurangan besi, pirodoksin atau tembaga.<br />
Anemia defisiensi besi adalah keadaan di mana kandungan besi tubuh total turun di bvawah tingkat normal yang terjadi akibat tidak adanya besi yang memadai untuk mensintesis hemoglobin.</p>
<p><span id="more-396"></span><br />
B.	Patofisiologi<br />
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang paling seiring menyerang anak-anak.  Bayi cukup bulan yang lahir dari ibu nonanemik dan bergizi baik, memiliki cukup persediaan zat besi sampai berat badan lahirnya  menjadi dua kali lipat umumnya saat berusia 4-6 bulan.  Sesudah itu zat besi harus tersedia dalam makanan untuk memenuhi kebutuhan anak.   Jika asupan zat besi dari makanan tidak mencukupi terjadinya anemia defisiensi besi.  Hal ini paling sering terjadikarena pengenalana makanan padat  yang terlalu dini  (sebelum usia 4-6 bulan). </p>
<p>Dihentikannya susu formula bayi mengandung zat besi atau asi sebelum usia 1 tahun dan minum susu sapi berlebihan tanpa tambahan makanan padat kaya besi.  Bayi yang tidak cukup bulan , bayi dengan perdarahan perinatal berlebihan atau bayi dari ibu yang kuirang  gizi dan kurang zat beri juga tidak memiliki cadangan zat besi yang adekuat.  Bayi ini beresiko lebih tinggi menderita anemia defisiensi besi sebelum berusia  6 bulan.</p>
<p>Anemia defisiensi besi dapat juga terjadi karena kehilangan darah yang kronik.  Pada bayi hal jni terjadi kerena perdarahan usus kronik yang disebabkn oleh protein dalam susu sapi yang tidak tahan panas.  Pada anak sembarang umur kehilangan darah sebanyak 1-7 ml dari saluran cerna setiap hari dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.  Pada remaja putri anemia defisiensi  zat besi juga dapat terjadi karena menstruasi yang berlebihan.</p>
<p>C.	Diagnosis</p>
<p>a.	Kadar porfirin eritrosit bebas ( meningkat )</p>
<p>b.	Konsentrasi besi serum ( menurun )</p>
<p>c.	Saturasi transferin ( menurun )</p>
<p>d.	Konsentrasi feritin serum ( menurun )</p>
<p>e.	Hemoglobin menurun </p>
<p>f.	Rasio hemoglobin porfirin eritrosit ( lebih dari 2,8 µg/g adalah diagnostik untuk defisiensi besi</p>
<p>g.	Mean cospuscle volume ( MCV ) dan Mean Cospuscle Hemoglobin Concentration ( MCHC ) , menurun menyebabkan anemia hipokrom mikrositik atau sel – sel darah merah yang kecil – kecil dan pucat.</p>
<p>h.	Selama pengobatan jumlah retikulosit meningkat dalam 3 sampai 5 hari sesudah dimulainya terapi besi mengidentifikasi respon terapiutik yang positif</p>
<p>i.	Dengan pengobatan, hemoglobin kembali normal dalam 4 sampai 8 minggu mengidentifikasi tambahan besi dan nutrisi yang adekuat.</p>
<p>D.	Penanganan dan pengobatan</p>
<p>Usaha pengobatan ditujukan pada pencegahan dan intervensi. Pencegahan tersebut mencakup menganjurkan ibu – ibu untuk memberikan ASI, makan makanan kaya besi dan minum vitamin pranatal yang mengandung besi. Terapi untuk mengatasi anemia defisiensi besi terdiri dari program pengobatan berikut :</p>
<p>a.	Zat besi diberikan per oral dalam dosis 2 – 3 mg/kg unsur besi semua bentuk zat besi sama efektifnya ( fero sulfat, fero fumarat, fero suksinat, fero glukonat ).</p>
<p>b.	Vitamin C harus deiberikan harus dengan besi ( vitamin C meningkatkan absorbsi besi )<br />
Terapi besi diberikan sekurang – kurangnya 6 minggu setelah anemia dikoreksi untuk mengisi cadangan besi. Zat besi yang disuntikan jarang dipakai lagi kecuali terdapat penyakit malabsorbsi usus halus.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Carpenito, L.J., 1995. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.</p>
<p>Bethz, Ceccily L., Sowden, Linda A., 1996. Perawatan Pediatri, EGC, Jakarta</p>
<p>Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geisserler, A.C., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.</p>
<p>Komite Medik RS Sardjito, 2000. Standar Pelayanan Medis, Medika FK UGM, Yogyakarta.</p>
<p>McCloskey, J.C., Bilechek, G.M., 1996, Nursing Interventions Classification. Mosby-Year Book, St.Louis.</p>
<p>Tucker, S.M., 1999. Standar Perawatan Pasien, edisi V, EGC, Jakarta.</p>
<p>WWW.elsevierscience:nursingdiagnoses,outcomes,andintervention.com</p>
<p>WWW1.Us.Elsevierhealth.com</p>
<p><ins datetime="2011-12-09T09:39:52+00:00"></ins></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/396/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=396&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/10/29/standar-asuhan-keperawatan-pasien-anemia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REKOMENDASI PERAWATAN MESIN KONTAK INFEKSIUS</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/18/rekomendasi-perawatan-mesin-kontak-infeksius/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/18/rekomendasi-perawatan-mesin-kontak-infeksius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 09:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[A. MESIN HD 1. Setiap kali prosedur dialysis selesai, dilakukan dekontaminasi pada mesin dialysis, baik pada bagian permukaan luar ( eksternal ) maupun pada bagian dalam mesin ( internal ) dengan menggunakan desinfektan kimia sesuai panduan dari masing-masing pabriknya. 2. Desinfektan bagian dalam mesin ( internal ) a. Bagian dalam mesin HD harus didesinfeksi setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=391&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	MESIN HD<br />
1.	Setiap kali prosedur dialysis selesai, dilakukan dekontaminasi pada mesin dialysis, baik pada bagian permukaan luar ( eksternal ) maupun pada bagian dalam mesin ( internal ) dengan menggunakan desinfektan kimia sesuai panduan dari masing-masing pabriknya.<br />
2.	Desinfektan bagian dalam mesin ( internal )<br />
a.	Bagian dalam mesin HD harus didesinfeksi setiap kali prosedur dialysis selesai (prosedur rutin mrliputi draining, disinfection, rinsing), sesuai dengan protocol yang dianjurkan oleh pabrikan.<span id="more-391"></span><br />
b.	Bila terjadi kebocoran darah pada system resirkulasi, dilakukan prosedur rutin desinfeksi8 dan pembilasan sebanyak 2 kali sebelum mesin tersebut dipakai kembali.<br />
3.	Desinfektan permukaan luar ( eksternal ) mesin dialysis<br />
a.	Perhatian khusus ditujukan pada bagian panel control mesin dialysis, seperti : dialysat ports, bicarbonate port, pressure transducer arterial-vena, air detector, heparin pump dan blood pump pada setiap kali prosedur HD selesai dilakukan.<br />
b.	Cairan desinfektan ditempatkan di dalam botol, semprotkan pada bagian permukaan mesin, lalu dengan lap khusus/kain flannel.<br />
c.	Bila terdapat percikan darah pada mesin harus segera dibersihkan dengan larutan klorin 1 %.<br />
4.	Pressure transduser.<br />
-	Pressure transducer filter protectors harus digunakan untuk mencegah kontaminasi antara komponen darah arteri dan vena pada mesin HD.</p>
<p>B.	DIALIZER</p>
<p>1.	Pemrosesan dializer proses ulang dialkukan dengan menerapkan prinsip kewaspadaan universal yang ketat.<br />
2.	Dializer proses ulang tidak dibenarkan dipakai oleh pasien dengan HBsAg positif.<br />
3.	Dializer proses ulang pada prinsipnya dapat digunakan oleh pasien dengan anti HCV positif dan HIV positif, namun harus menerapkan prinsip kewaspadaan universal yang ketat.<br />
4.	Tempat pemrosesan dializer proses ulang hendaknya terpisah antara pasien masing-masing dengan Anti HCV positif, anti HIV positif dan pasien dengan kedua marker negative.<br />
5.	setiap dializer proses nulang diberi label nama yang jelas agar tidak tertukar dengan dializer yang lain.<br />
6.	Tempat penyimpanan dializer pakai ulang pasien dengan anti HCV positif atau anti HIV positif dipisahkan dari pasien dengan kedua marker negative.</p>
<p>C.	RUANG HEMODIALISIS</p>
<p>1.	Ruang tempat penyimpanan peralatan medik dan obat terpisah dari ruang pasien.<br />
2.	seluruh aktifitas berkaitan dengan persiapan peralatan medik maupun obat, dilakukan di ruang khusus ini.<br />
3.	Jarak antara masing-masing tempat tidur/kursi tidur dan mesin HD tidak terlalu rapat.<br />
4.	Memiliki penerangan dan sirkulasi udara yang memadai.<br />
5.	Tersedia botol berisi antiseptic misalnya : alcohol 70 % atau cairan antiseptic lain dan tempat berisi sarung tangan bersih di dekaqt tempat tidur pasien.<br />
6.	Tempat pembuangan sampah medik dan non medik serta pembuangnan jarum bekas pakai tersedia secara terpisah.<br />
7.	Memiliki ruang khusus terpisah (ruang isolasi) untuk pasien dengan HBsAg positif.<br />
8.	Lantai ruang dialysis dibersihkan dengan chlorine-based disinfectants, formaldehid atau asam parasetat atau glutaraldehide setelah ruangan tidak digunakan lagi.</p>
<p>D.	PERALATAN LAIN<br />
1.	Untuk mencegah penularan, obat vital multidosis hanya boleh digunakan berulang kali oleh pasien yang sama.<br />
2.	Semua peralatan medik steril yang dibawa ke ruang HD dibatasi secukupnya sesuai dengan keperluan saat ini.<br />
3.	Meja dorong yang berisi peralatan medik yang steril jangan ditaruh di dekat pasien.<br />
4.	Sampel darah dan cairan tubuh lainnya dijauhkan dari area penempatan obat-obatan dan peralatan medik.<br />
5.	Peralatan perabotan seperti kursi/tempat tidur dialysis, meja pasien dan lain-lain dibersihkan dengan klorin 10 %, petugas pembersih mengenakan sarung tangan kerja setiap selesai tindakan HD.<br />
6.	Peralatan dan permukaan lingkungan tempat kerja (enviromental surfaces) berpotensi sebagai media penularan infeksi, terutama barang benda yang sering disentuh tangan, sehingga perlu dilakukan desinfeksi secara berkala.<br />
7.	Setelah selesai tindakan, jarum bekas pakai tidak boleh ditutup kembali dan alat suntikan tersebut langsung dibuang ke tempat pembuangan khusus.<br />
8.	Pasien dengan HBsAg positif, anti HCV positif dan HIV positif menggunakan peralatan medik berikut dibawah ini yang dipakai untuk masing-masing pasien yang sama :<br />
-	Turnikuet<br />
-	Plester<br />
-	Gunting<br />
-	Klem<br />
-	Tensimeter<br />
-	Thermometer<br />
-	Stetoscop<br />
9.	Gunting dan klem dapat digunakan kembali untuk pasien lain setelah dilakukan desinfeksi tingkat tinggi.<br />
10.	Gorden Fabric Screen harus dicuci setiap 1 – 2 bulan ( VHB dapat hidup sampai 7 hari di tempat ini walaupun tidak ada darah yang jelas terlihat )<br />
11.	Linen :<br />
-	Sprei dan sarung bantal pasien harus diganti segera setelah selesai dialysis.<br />
-	Linen kotor ditaruh di tempat khusus.<br />
-	Bila linen terpercik darah, disiram terlebih dahulu dengan klorin 1 % sebelum ditaruh di tempat linen kotor.<br />
-	Linen pasien dengan HBsAg positif ditempatkan terpisah dan dicuci dengan larutan klorin 1 %.</p>
<p>E.	TEMPAT SAMPAH<br />
1.	Tempat sampah Medis Untuk Benda Tajam :<br />
a.	Wadah harus tahan tusukan.<br />
b.	Jarum suntik bekas pakai, potongan kemasan obat yang tajam (ampul) atau sampah tajam lainnya ditaruh di tempat sampah ini. Wadah tidak boleh diisi sampai penuh, maksimal sampai 2/3 bagian.<br />
c.	Bila sudah terisi cukup, pastikan wadah tertutup dengan aman, taruh ditempat khusus pengumpulan pengambilan sampah. Sampah diambil oleh petugas untuk diproses sesuai dengan ketentuan pengelolaan sampah medik.<br />
d.	Bila terdapat percikan darah pada permukaan tempat sampah, segera bersihkan dengan cairan klorin 0,1 %.<br />
2.	Tempat Sampah Medis Untuk Benda Tidak Tajam<br />
a.	Wadah berupa kantong plastic 2 lapis yang dapat diikat kencang.<br />
b.	Kasa bekas, dializer dan blood line bekas pakai dibuang pada wadah ini.<br />
c.	Blood line dibuang dalam keadaan klem tertutup agar sisa darah tidak berceceran.<br />
3.	Tempat Sampah Non Medis<br />
Berfungsi untuk menampung sampah yang tidak tercemar darah dan cairan tubuh, seperti kertas, pembungkus kemasan dan lain-lain.</p>
<p>RUJUKAN :<br />
Tindakan dialysis telah diidentifikasikan sebagai faktor risiko penularan infeksi virus hepatitis. VIB dapat ditemukan dengan titer yang sangat tinggi di dalam darah dan cairan tubuh pasien dengan infeksi kronik virus ini ( &gt; 10 * virus particles per mm ). Permukaan lingkungan kerja yang terkontaminasi VHB ( termasuk kontaminasi yang tidak terlihat mata / invisible contamination ) merupakan reservoir untuk transmisi VHB. Permukaan lingkungan yang terkontaminasi oleh darah yang mengandung VHB masih tetap infeksius sampai 1 minggu pada suhu 25 °C.</p>
<p>Cara penularan VHB di ruang HD antara lain melalui kontaminasi darah dengan alat kesehatan atau permukaan lingkungan kerja, alat kesehatan yang dipakai bersama-sama, melalui petugas kesehatan yang menangani pasien HBsAg positif dan negative secara bersamaan.</p>
<p>Dari banyak studi terbukti bahwa transmisi VHC tidak saja melalui tranfusi darah tapi lebih banyak melalui infeksi nosokomial di ruang dialysis. Penularan terutama melalui kontaminasi tangan petugas kesehatan, alat kesehatan dan permukaan lingkungan kerja. Tidak ada bukti kuat bahwa mesin dialysis dapat menularkan VHC atau virus HIV asalkan mesin tersebut di dekontaminasi dengan baik setelah prosedur dialysis.</p>
<p>Hubungan antara transmisi virus hepatitis dan pemakaian ulang dializer (reuse) sudah pernah diteliti oleh CDC dan peneliti lainnya. Walaupun tidak ada hubungan yang jelas antara insiden hepatitis C dengan pemakaian ulang dializer, tindakan seperti pemisahan ruangan dializer proses ulang untuk pasien hepatitis C dan penggunaan asam perasetat sebagai germisida dapat mengurangi angka kejadian hepatitis C.</p>
<p>Benda tajam sangat berisiko untuk menularkan penyakit melalui kontak darah. Jarum suntik harus digunakan sekali pakai dan dibuang ditempat sampah khusus untuk benda tajam. Jangan dilakukan daur ulang atas pertimbangan penghematan karena 17 % kecelakaan kerja terjadi akibat luka tusukan sebelum atau selama pemakaian, 70 % terjadi sesudah pemakaian dan sebelum pembuangan serta 13 % sesudah pembuangan. Kebanyakan kecelakaan kerja akibat penyarungan jarum suntik setelah digunakan.</p>
<p>Sudah ada laporan bahwa terjadi wabah ( outbreak hepatitis 0 B yang ditularkan oleh pemakaian bersama obat vial multidosis.</p>
<p>CDC menganjurkan untuk melakukan universal precautions yang baik untuk mencegah transmisi bloodborne viruses di unit hemodialisis.</p>
<p>Sumber :<br />
PERNEFRI. 2006. Rekomendasi Pengendalian Infeksi Virus Hepatitis B, Virus Hepatitis C, dan HIV pada Unit Hemodialisis di Indonesia. Jakarta. Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=391&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/18/rekomendasi-perawatan-mesin-kontak-infeksius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>H A K &#8211; H A K    P A S I E N</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/h-a-k-h-a-k-p-a-s-i-e-n/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/h-a-k-h-a-k-p-a-s-i-e-n/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 04:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Hak menurut Fagin dikutip oleh Ismani, (2001), merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang mempunyai hak terhadapnya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa yang berupa tuntutan yang berdasarkan keadilan, moralitas atau legalitas. Hak-hak pasien yang sekarang ini sering dibicarakan menurut Purnomo dikutip oleh Robert, (1995) tumbuh dari mata rantai pasal 25 The United Nations Universal Declaration of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=385&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hak menurut Fagin dikutip oleh Ismani, (2001), merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang mempunyai hak terhadapnya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa yang berupa tuntutan yang berdasarkan keadilan, moralitas atau legalitas. Hak-hak pasien yang sekarang ini sering dibicarakan menurut Purnomo dikutip oleh Robert, (1995) tumbuh dari mata rantai pasal 25 The United Nations Universal Declaration of Human Rights 1948 : pasal I The United Nations International Convention Civil and Political Rights 196 yaitu hak untuk memperoleh pemeliharaan kesehatan (The Right to Self Determination) kemudian dari Deklarasi Helsinki, oleh The 18th World Medical Assembly, Finland 1964 muncul hak untuk memperoleh informasi (The Right to Information).<span id="more-385"></span><br />
Direktorat Pelayanan Keperawatan Dirjen.Yan.Medik Dep. Kes. RI  2001 memberikan ketentuan tentang hak-hak pasien yaitu :<br />
a.	Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang    berlaku di rumah sakit.<br />
b.	Pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.<br />
c.	Memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu sesuai dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi.<br />
d.	Memilih dokter dan kelas keperawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.<br />
e.	Meminta konsulatsi ke dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut (second opinion), terhadap penyakit yang dideritanya sepengetahuan dokter yang menangani.<br />
f.	Privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.<br />
g.	Mendapatkan informasi yang meliputi : penyakit yang dideritanya, tindakan medik yang akan dilakukannya, kemungkinan penyulit sebagai akibat dari tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya, alternatif terapi lainnya beserta resikonya, prognosa penyakitnya dan prakiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang dideritanya.<br />
h.	Menyetujui/memberikan tindakan atas tindakan yang akan dilakukan oleh perawat sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.<br />
i.	Menolak tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.<br />
j.	Hak didampingi keluraganya dalam keadaan kritis.<br />
k.	Hak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.<br />
l.	Hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama perawatan di rumah sakit.<br />
m.	Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya.<br />
n.	Hak untuk menerima atau menolak bimbingan moril dan spirituil.<br />
o.	Hak didampingi perawat/keluarga pada saat diperiksa dokter.</p>
<p>Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-hak hukum dan hak-hak moral.</p>
<p>Munurut Notoatmodjo (2003), hak orang sakit yang pertama dan yang utama adalah bebas dari segala tanggung jawab sosial yang normal.  Artinya, orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk  tidak melakukan pekerjaan sehari-hari yang biasa dia lakukan.  Hak yang kedua dari orang sakit adalah untuk menuntut (mengklaim)  bantuan atau perawatan kepada orang lain.  Ia berhak dibantu dan dirawat agar cepat memperoleh kesembuhan.  Hak konsumen kesehatan, berdasarkan UU No.8/1999 tentang kesehatan perlindungan konsumen, yaitu :<br />
a.	kenyamanan, keamanan dan keselamatan<br />
b.	memilih<br />
c.	informasi yang benar, jelas dan jujur<br />
d.	didengar pendapat dan keluhannya<br />
e.	mendapatkan advokasi, pendidikan dan perlindungan konsumen<br />
f.	dilayani secara benar, jujur, tidak diskriminatif<br />
g.	memperoleh kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian</p>
<p>Pernyataan hak-hak pasien (Patient’s bill of Right) dikeluarkan oleh The American Hospital Association pada tahun 1973 dikutip oleh Ismani, (2001) dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pemahaman hak-hak pasienyang akan dirawat dirumah sakit. Pernyataan tentang hak-hak tersebut adalah:<br />
a.	Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menghargai asuhan kesehatan atau keperawatan yang akan diterimanya.<br />
b.	Pasien berhak untuk menerima informasi lengkap dari dokter yang memeriksanya berkaitan dengan diagnosa, pengobatan dan prognosa, dalam arti pasien layak untuk mengerti masalah yang dihadapinya.<br />
c.	Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan suatu persetujuan tentang dimulainya suatu prosedur pengobatan, serta resiko penting yang kemungkinan akan dialaminya, kecuali dalam situasi darurat.<br />
d.	Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diizinkan oleh hukum dan diinformasikan tentang konsekuensi tindakan yang akan diterimanya.<br />
e.	Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dan privasinya yang menyangkut program asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang dilakukan dengan cermat dan dirahasiakan.<br />
f.	Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan tentang asuhan kesehatan yang diberikan kepadanya.<br />
g.	Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ketempat lain yang lebih lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang  alasan rujukan tersebut; dan rumah sakit yang ditunjuk dapat menerimanya.<br />
h.	Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan rumah sakit dan instansi lain, seperti instansi pendidikan dan instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang diterimanya. Contoh : hubungan individu yang merawatnya, nama yang merawat dan sebagainya.<br />
i.	Pasien berhak untuk memberi pendapat atau menolak bila diikutsertakan sebagai suatu eksperimen yang berhubungan dengan asuhan atau pengobatannya.<br />
j.	Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian delegasi dari dokternya kepada orang lain, bila dibutuhkan dalam rangka asuhannya.<br />
k.	Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya yang diperlukan untuk asuhan kesehatannya.<br />
l.	Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan rumah sakit yang harus dipatuhinya sebagai pasien selama dirawat.</p>
<p>Selain yang sudah tertuang hak-hak pasien di atas, menurut Yahya (2005), pasien di rumah sakit mempunyai hak-hak tertentu. Hak-hak itu adalah :<br />
a.	Hak untuk mendapatkan pelayanan yang manusiawi.<br />
b.	Hak untuk memperoleh asuhan perawatan yang bermutu baik.<br />
c.	Hak untuk memilih dakter yang merawat.<br />
d.	Hak untuk meminta dokter yang merawat agar mengadakan berkonsultasi dengan dokter lain.<br />
e.	Hak atas “privacy” dan kerahasiaan yang berkenaan dengan penyakit yang dideritanya.<br />
f.	Hak untuk memperoleh informasi yang jelas tentang : penyakit yang diderita ; tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinan timbulnya penyulit sebagai akibat tindakan tersebut; alernatif pengobatan lain; prognosis atau perjalanan penyakit; serta perkiraan biaya pengobatan.<br />
g.	Hak untuk tidak diinformasikan tentang penyakitnya kepada orang atau pihak lain.<br />
h.	Hak untuk menolak  tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.<br />
i.	Hak untuk mengajukan keluhan-keluahan dan memperoleh tanggapan segera.<br />
j.	Hak untuk didampingi keluarga pada saat kondisi kritis.<br />
k.	Hak mengakhiri pengobatan dan rawat inap atas tanggung jawab sendiri.<br />
l.	Hak untuk menjalankan ritual agama dan kepercayaannya di rumah sakit, selama tidak mengganggu pengobatan dan pasien yang lain.</p>
<p>Menurut Djojobroto (1997), provider (pemberi layanan jasa kesehatan) harus menghormati hak-hak pasien yaitu:<br />
a.	Pasien berhak menerima perawatan yang diberikan kepadanya dengan sopan dan penuh perhatian.<br />
b.	Pasien berhak menerima keterangan lengkap dan jelas dari dokternya mengenai diagnosa medis, perawatan dan prognosisnya melalui istilah yang mudah ditangkap dan dimengerti oleh pasien.  Bila kesehatan pasien tidak memungkinkan dia untuk memperoleh keterangan secara langsung, keterangan itu harus disampaikan kepada orang yang dapat mewakili pasien.  Pasien berhak mengetahui nama dokter yang memimpin perawatannya.<br />
c.	Pasien berhak mendapatkan keterangan yang jelas sebelum ia dimintai menyetujui suatu prosedur atau perawatan lain,  kecuali dalam kegawatan, pasien harus menerima keterangan yang terinci mengenai risiko yang dihadapi dan berapa lama ia harus dirawat sebelum pulih kembali.  Pasien juga berhak mendapat keterangan mengenai perawatan atau tindakan tersebut.<br />
d.	Pasien berhak menolak perawatan atau tindakan sesuai dengan hukum yang berlaku dan harus diberitahu mengenai akibat medis dari penolakan ini.<br />
e.	Keterangan medis mengenai pasien bersifat sangat pribadi.  Diskusi, konsultasi, pemeriksaan dan perawatan harus dilaksanakan dengan merahasiakan keterangan mengenai pasien ini sehingga orang lain yang tidak berkepentingan tidak akan mengetahuinya.  Pasien harus memberi izin sebelum orang yang tidak berhubungan langsung dengan perawatannya boleh memperoleh keterangan mengenai perawatan dan keadaan dirinya.<br />
f.	Pasien berhak menerima jaminan bahwa semua dokumen yang berhubungan dengan perawatannya akan dianggap sangat pribadi dan tidak dapat diberikan kepada orang yang tidak berkepentingan.<br />
g.	Pasien berhak atas pelayanan yang sebaik-baiknya dan permintaannya yang dapat dipenuhi harus dipenuhi.  Bila diperlukan, pasien dapat dipindahkan ke lembaga medis atau rumah sakit yang lain, tetapi sebelum ini dilaksanakan pasien harus memahami alasan atau pertimbangan atas keputusan ini.  Pasien juga harus diizinkan masuk rumah sakit atau lembaga medis lain.<br />
h.	Pasien berhak menerima keterangan mengenai hubungan rumah sakit tempat dia berada denga lembaga medis lain yang terlibat dalam perawatannya.  Pasien juga berhak mengetahui hubungan profesional diantara dokter dan orang lain yang memberikan perawatan.<br />
i.	Pasien berhak diberi tahu bahwa rumah sakit tempat dia berada mengadakan penelitian-penelitian yang melibatkan pasien.  Pasien berhak menolak ikut dalam program penelitian ini.<br />
j.	Pasien berhak memperoleh jaminan bahwa perawatan yang ia terima tidak akan terputus, tetapi akan berlangsung dengan lancar.  Pasien berhak mendapat keterangan mengenai jadwal dokter dan kapan dokter dapat ditemui.  Pasien berhak mendapat keterangan mengenai tindak lanjut perawatan setelah dia pulang dari rumah sakit.<br />
k.	Pasien berhak melihat perincian biaya perawatan rumah sakit, meskipun bukan dia sendiri yang akan mengatur pembayarannya.<br />
l.	Pasien berhak mendapat keterangan mengenai segala peraturan rumah sakit yang berlaku dan berhubungan dengan pasien.</p>
<p>Mengetahui hak-hak pasien adalah penting, hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu asuhan kesehatan dan membuat sistem asuhan kesehatan yang responsive terhadap kebutuhan klien.  Menurut Robert (1995)  beberapa hak pasien yang penting adalah:<br />
a.   Hak memberikan persetujuan (consent)<br />
Consent mengandung arti suatu tindakan atau aksi beralasan yang diberikan tanpa paksaan oleh seorang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keputusan yang ia berikan, dimana orang tersebut secara hukum mampu memberikan consent.  Consent diterapkan pada prinsip bahwa setiap manusia dewasa mempunyai hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadapnya. Di Indonesia masalah informed consent sudah diatur dsalam Peraturan Menteri Kesehatan no.585 tahun 1989, adalah hak pasien untuk memberikan izin/persetujuan kepada dokternya untuk boleh dilakukan medik tertentu terhadapnya.  Hal ini melekat pada diri pasien sebagai manusia untuk menentukan apa yang dikehendaki terhadap dirinya sendiri.  (Guwandi, 2004).  Kriteria consent yang sah menurut Ellis dikutip oleh Robert, (1995) yaitu: a) tertulis, b) ditanda tangani oleh pasien atau orang yang bertanggng jawab terhadapnya, c) hanya ada salah satu prosedur yang teat dilakukan, d) memenuhi bebrapa elemen penting: penjelasan kondisi, prosedur dan konsekuensinya, penanganan atau prosedur alternatif, manfaat yang diharapkan, tawaran diberikan oleh pasien dewasa yang secara fisik dan mental mampu membuat keputusan.  </p>
<p>b.   Hak untuk memilih mati<br />
Keputusan tentang kematian dibuat berdasarkan standar medis yang dibuat oleh dokter, salah satu kriteria adalah mati otak atau brain death. Hak untuk memilih mati sering bertolak belakang dengan hak untuk mempertahankan hidup.<br />
Permasalahan muncul ketika pasien dalam keadaan kritis dan tak mampu membuat keputusan sendiri tentang hidup dan matinya, misal dalam keadaan koma. Dalam keadaan ini pasien hanya mampu mempertahankan hidup jika dibantu dengan peralatan mekanik.</p>
<p>c.   Hak perlindungan bagi orang yang tidak berdaya.<br />
     Yang dimaksud orang dengan golongan tidak berdaya di sini adalah orang dengan gangguan mental dan anak-anak di bawah umur serta remaja di mana secara hukum mereka tidak dapat membuat keputusan tentang nasibnya sendiri, serta golongan usia lanjut yang telah mengalami perubahan pola berpikir maupun kelemahan fisik. Prinsip dalam konteks di sini, hak-hak mereka tidak dilanggar dan segala keputusan dibuat pada mereka merupakan keputusan yang terbaik. Untuk membuat keputusan dibutuhkan wali baik keluarga, orang tua atau wali ahli.</p>
<p>d..   Hak pasien dalam penelitian<br />
      Penelitan sering dilakukan dengan melibatkan pasien. Setiap penelitian yang melibatkan pasien harus memperhatikan hak pasien. Sebelum pasien terlibat, kepada mereka harus diberi informasi secara jelas tentang sesuatu yang akan dilakukan terhadap mereka dan kebebasan pasien untuk menolak atau menerima berpartisipasi.</p>
<p>Menurut Sudra (2006), hak pasien terhadap berkas rekam medis mereka berkaitan dengan informasi kesehatan yang terkandung di dalamnya :<br />
a.	Hak privacy, pasien mempunyai hak untuk menjaga kerahasiaan informasi kesehatan mereka. Informasi yang terkandung dalam berkas rekam medis harus dijaga kerahasiaan dan keamanannya. Penggunaan rekam medis berbasis komputer / elektronik selayaknya harus lebih terjaga kerahasiaan dan keamanannya dibandingkan rekam medis berbasis kertas.<br />
b.	Hak untuk mengakses / melihat informasi kesehatan pribadi, meskipun perdebatan tentang kepemilikan rekam medis masih diperdebatkan namun secara umum mulai disepakati bahwa pihak provider (rumah sakit, klinik, dll) berhak atas kepemilikan rekam medis secara fisik. Fisik atau media rekam medis ini dapat berupa lembaran kertas atau media penyimpanan di komputer. Isi / kandungan informasi dari rekam medis dimiliki secara bersama oleh pihak provider pasien. Beberapa provider mungkin belum siap untuk mengijinkan pasiennya melihat / mengakses berkas rekam medisnya atau melayani permintaan fotokopi untuk itu. Namun secara umum, pihak provider akan melayani kebutuhan hak pasien ini. Jadi, pasien berhak melihat, mengakses atau meminta fotokopi/ salinan dari berkas medis mereka. Tentunya hal ini akan berkaitan dengan konsekuensinya dengan biaya penggantian fotokopi dan pengelolaanya. Hak untuk memasukkan / menambahkan catatan dalam rekam medis. Pelaksanaan hak ini tentu melalui prosedur dan alur yang telah ditentukan oleh pihak provider, misalnya melalui unit atau komite yang bersangkutan. Pasien mempunyai hak untuk menambahkan catatan atau penjelasan ke dalam berkas rekam medis mereka.<br />
c.	Hak untuk tidak mencantumkan indentitas (anonim). Hak ini berlaku apabila pasien tersebut membayar biaya sendiri pelayanan kesehatanya (tidak melalui penjaminan atau asuransi). Dalam hal ini pasien berhak untuk menutup / menjaga informasi dirinya selama pelayanan kesehatan (termasuk juga rencana kesehatannya). Beberapa informasi hanya boleh dibuka untuk dokter atau pihak tertentu saja dengan pernyataan tertulis dan spesifik dan pasien yang bersangkutan.<br />
d.	Hak untuk mendapat riwayat kehidupan medis yang baru. Beberapa pasien akan merasa terperangkap dalam diagnosis medis tertentu atau catatan tetentu dalam rekam medis mereka misalnya pasien kesehatan mental. Pasien memiliki hak untuk memulai kehidupan medis yang baru dengan mulai membuat rekam medis yang baru.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Biro Umum Sekretariat Jenderal Depkes RI. (1980). Struktur Organisasi Departemen Kesehatan RI, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta</p>
<p>Dirjen Yan. Med. Depkes RI. (1993). Informasi Rumah Sakit, Edisi : 3, Departemen Kesehatan RI, Jakarta</p>
<p>Djojodibroto, R. D. (1997). Kiat Mengelola Rumah Sakit, Editor. Sudiarto Komala. Alexander Hakim, Jakarta : Hipokrates</p>
<p>Guwandi, J.S. H. (2004). Informed Consent, Jakarta : Balai Penerbit FKUI Jakarta</p>
<p>Ismani, N. Hj. (2001). Etika Keperawatan, Jakarta : Widya Merdeka<br />
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta</p>
<p>Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta</p>
<p>Presiden Republik Indonesia. (1996). PP 32/1996; Tenaga Kesehatan. Terdapat pada : http://ftp.ui.edu/bebas/v01/RI/pp/1996/pp-1996-32.txt</p>
<p>Priharjo, Robert. (1995). Praktek Keperawatan Profesional Konsep Dasar Hukum; Editor : Yasmin Asih, Jakarta : EGC</p>
<p>Sudra, R. (2006). Hak Pasien terhadap Rekam Medis. Terdapap pada : http://www.rino’s-center.com.id</p>
<p>Roshana, S. (2001). Hak dan Kewajiban Pasien RS. Terdapat pada : http://www.pdpersi.com.id/pdpersi/news/layanan-rs.php3?id=1</p>
<p>Sub Bagian Penyusunan Program dan Laporan, (2006), Laporan Kinerja Bulanan RSMS Purwokerto, Januari 2006-Oktober 2006, Purwokerto. Tidak dipublikasikan.</p>
<p>Takarina, E. K. (2004). Layanan Kesehatan adalah Hak Pasien. Terdapat pada : http://www.freelists.org/archives/ppi//03-2004/msg00394.html</p>
<p>Yahya, A. A. (2005). Pelayanan Rumah Sakit; Belum Mengerti Penyakit? Hak Pasien di Rumah Sakit. Terdapat pada : http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2005/0225/kes.html  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=385&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/h-a-k-h-a-k-p-a-s-i-e-n/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KLASIFIKASI RUMAH SAKIT</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/klasifikasi-rumah-sakit/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/klasifikasi-rumah-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 03:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Klasifikasi Rumah Sakit Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 134/Men.Kes/SK/ IV/78 tahun 1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum pasal 4 menjelaskan bahwa Rumah Sakit Umum dibagi menjadi tiga kelas yaitu : a. Kelas A yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistis dan sub spesialistis luas. b. Kelas B yang melaksanakan pelayanan keshatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=381&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Klasifikasi Rumah Sakit<br />
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 134/Men.Kes/SK/ IV/78 tahun 1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum pasal 4 menjelaskan bahwa Rumah Sakit Umum dibagi menjadi tiga kelas yaitu :<br />
a.   Kelas A yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistis dan sub spesialistis luas.<br />
b.   Kelas B yang melaksanakan pelayanan keshatan spesialistis luas.<br />
c.   Kelas C yang melaksanakan pelayanan kesehatan sedikitnya empat cabang spesialistis  yaitu penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, penyakit bedah dan kesehatan anak.<span id="more-381"></span><br />
Sesuai dengan klasifikasi di atas, untuk mengarahkan dan mengendalikan perkembangan rumah sakit diperlukan klasifikasi dan subklasifikasi rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan medik, penunjang medik dan perawatan yang dikemukakan oleh Departemen Kesehatan RI, sebagai berikut :<br />
a.  Pelayanan medik umum.<br />
b.  Pelayanan medik spesialistik dan subspesialistik :<br />
                 1).  Pelayanan medik spesialistik 4 dasar :<br />
a). Penyakit dalam<br />
b). Penyakit bedah<br />
c). Kebidanan dan kandungan<br />
d). Kesehatan anak</p>
<p>                 2).  Pelayanan 6 medik spesialistik :<br />
a). Mata<br />
b). THT<br />
c). Kulit dan kelamin<br />
d). Syaraf<br />
e). Kesehatan jiwa<br />
f). Gigi da mulut</p>
<p>3).  Pelayanan medik lainnya<br />
 a). Jantung<br />
 b). Paru-paru<br />
  c). Bedah syaraf<br />
  d). Ortopaedi</p>
<p>4). Pelayanan medik sub-spesialistik<br />
      Dari setiap cabang spesialistik, 4 dasar dan 6 spesialistik   tesebut dapat berkembang satu atau lebih sub-spesialistik.</p>
<p>           c.    Pelayanan penunjang medik<br />
1). Radiologi<br />
2).  Patologi, meliputi :<br />
a). Patologi klinik<br />
b). Patologi anatomi<br />
c).  Patologi forensik<br />
3). Anestesi<br />
4). Gizi<br />
5). Farmasi<br />
6). Rehabilitasi medik</p>
<p>          d.    Pelayanan Perawatan<br />
1). Pelayanan perawatan umum dasar<br />
2). Pelayanan perawatan spesialistik<br />
3). Pelayanan perawatan sub-spesialistik<br />
Sedangkan menurut Dirjen Yan. Medik Depkes RI (1993), pengelompokan rumah sakit menjadi dua yaitu berdasarkan jenis dan pengelolanya.<br />
Berdasarkan jenisnya yaitu :<br />
a.   Rumah Sakit Umum<br />
b.   Rumah Sakit Jiwa<br />
c.   Rumah Sakit Khusus yang meliputi :<br />
1). Rumah Sakit Kusta<br />
            2). Rumah Sakit Tuberkulosis<br />
3). Rumah Sakit Mata<br />
4). Rumah Sakit Ortopaedi dan Protease<br />
5). Rumah Sakit Bersalin<br />
6) Rumah Sakit Khusus Spesialis lainnya.</p>
<p>Sedangkan menurut pengelolanya, rumah sakit dibedakan menjadi sebagai berikut :<br />
a. Rumah Sakit Rumah Sakit Vertikal (Depkes RI)<br />
b. Rumah Sakit Propinsi<br />
c. Rumah Sakit Kabupaten/Kota<br />
d. Rumah Sakit Tentara<br />
e. Rumah Sakit Departemen lainnya.<br />
f. Rumah Sakit Swasta.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Biro Umum Sekretariat Jenderal Depkes RI. (1980). Struktur Organisasi Departemen Kesehatan RI, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta</p>
<p>Dirjen Yan. Med. Depkes RI. (1993). Informasi Rumah Sakit, Edisi : 3, Departemen Kesehatan RI, Jakarta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=381&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/07/klasifikasi-rumah-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TRANFUSI DARAH PADA PASIEN HEMODIALISIS</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/tranfusi-darah-pada-pasien-hemodialisis/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/tranfusi-darah-pada-pasien-hemodialisis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 13:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hemodialisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Tranfusi darah dapat diberikan pada keadaan khusus 1. Indikasi a. Perdarahan akut dengan gejala gangguan hemodianamik b. Tidak memeungkinkan menggunakan EPO dan Hb &#60; 7 g/dL c. Hb &#60; 8 g/dL dengan gangguan hemodianamik d. Pasien dengan defisiensi besi yang akan deprogram terapi EPO ataupun yang telah mendapat EPO tetapi respon belum adekuat, sementara preparat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=379&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tranfusi darah dapat diberikan pada keadaan khusus<br />
1.	Indikasi<br />
a.	Perdarahan akut dengan gejala gangguan hemodianamik<br />
b.	Tidak memeungkinkan menggunakan EPO dan Hb &lt; 7 g/dL<br />
c.	Hb &lt; 8 g/dL dengan gangguan hemodianamik<br />
d.	Pasien dengan defisiensi besi yang akan deprogram terapi EPO ataupun yang telah mendapat EPO tetapi respon belum adekuat, sementara preparat besi IV / IM belum tersedia, dapat diberikan tranfusi darah dengan hati – hati.<br />
<span id="more-379"></span><br />
2.	Target<br />
Target pencapaian Hb dengan tranfusi 7 – 9 d/dL ( tidak sama dengan target Hb pada terapi EPO.</p>
<p>3.	Tranfusi pada calon resipien transplantasi<br />
Pada kelompok pasien yang deprogram untuk transplantasi ginjal, pemberian tranfusi darah sedapat mungkin dihindari.</p>
<p>Catatan	:<br />
-	Tranfusi darah memiliki risiko penularan hepatitis virus B dan C, infeksi HIV serta potensi terjadinya reaksi tranfusi.<br />
-	Tranfusi diberikan secara bertahap untuk menghindari bahaya overhidrasi, hiperkatabolik / asidosis, hiperkalemia.<br />
-	Tranfusi diberikan dalam bentuk Packed Red Cell ( PRC ) yang sebelumnya telah dilakuukan skrining utnuk hepatitis B, C dan HIV.<br />
-	Bukti klinis menunjukan bahwa pemberian tranfusi darah sampai Hb 10 – 12 g/dL; berhubungan dengan peningkatan mortalitas, tidak terbukti bermanfaat, walaupun pada pasien penyakit jantung.<br />
-	Pada pasien yang diprogram untuk transplantasi ginjal, bila perlu dapat dipertimbangkan donor specific transfusion ( DST ).</p>
<p>Sumber :<br />
PERNEFRI. Konsensus : Manajemen Anemia Pada Pasien Gagal ginjal Kronik. Jakarta. 2001</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/379/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=379&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/tranfusi-darah-pada-pasien-hemodialisis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REAKSI SIMPANG ATAU EFEK SAMPING TERAPI EPO</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/reaksi-simpang-atau-efek-samping-terapi-epo/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/reaksi-simpang-atau-efek-samping-terapi-epo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 13:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hemodialisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[1. Hipertensi : a. Tekanan darah harus dipantau ketat terutama selama terapi EPO fase koreksi. b. Pasien mungkin membutuhkan terapi antihipertensi atau peningkatan dosis obat antihipertensi. c. Peningkatan tekanan darah pada pasien dengan terapi EPO tidak berhubungan dengan kadar Hb. 2. Kejang : a. Terutama terjadi pada masa terapi EPO fase koreksi. b. Berhubungan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=377&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.	Hipertensi	:<br />
a.	Tekanan darah harus dipantau ketat terutama selama terapi EPO fase koreksi.<br />
b.	Pasien mungkin membutuhkan terapi antihipertensi atau peningkatan dosis obat antihipertensi.<br />
c.	Peningkatan tekanan darah pada pasien dengan terapi EPO tidak  berhubungan dengan kadar Hb.<span id="more-377"></span><br />
2.	Kejang		:<br />
a.	Terutama terjadi pada masa terapi EPO fase koreksi.<br />
b.	Berhubungan dengan kenaikan Hb/Ht yang cepat dan tekanan darah yang tidak terkontrol.</p>
<p>Catatan	:<br />
	Dosis antikoagulan	: Belum ada bukti kuat perlunya peningkatan dosis antikoagulan pada terapi EPO.<br />
	Trombosis akses vaskuler : Belum ada bukti kuat bahwa terapi EPO meningkatkan risiko trombosis akses vaskuler, selama Hb berada dalam batas optimal.<br />
	Hiperkalemia : Belum ada bukti EPO menyebabkan hiperkalemia.</p>
<p>Sumber :<br />
PERNEFRI. Konsensus : Manajemen Anemia Pada Pasien Gagal ginjal Kronik. Jakarta. 2001</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=377&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/reaksi-simpang-atau-efek-samping-terapi-epo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RESPON EPO TIDAK ADEKUAT</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/respon-epo-tidak-adekuat/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/respon-epo-tidak-adekuat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 13:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hemodialisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[1. Batasan Respon terhadap EPO tidak adekuat bila pasien gagal mencapai kenaikan Hb/Ht yang dikehendaki setelah pemberian EPO selama 4 – 8 minggu. 2. Penyebab a. Defisiensi besi absolute dan fungsional merupakan penyebab tersering b. Infeksi / inflamasi ; TBC, SLE, AIDS c. Kehilangan darah kronik d. Malnutrisi e. Dialisis tidak adekuat f. Obat – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=375&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.	Batasan<br />
Respon terhadap EPO tidak adekuat bila pasien gagal mencapai kenaikan Hb/Ht yang dikehendaki setelah pemberian EPO selama 4 – 8 minggu.<br />
<span id="more-375"></span><br />
2.	Penyebab<br />
a.	Defisiensi besi absolute dan fungsional merupakan  penyebab tersering<br />
b.	Infeksi / inflamasi ; TBC, SLE, AIDS<br />
c.	Kehilangan darah kronik<br />
d.	Malnutrisi<br />
e.	Dialisis tidak adekuat<br />
f.	Obat – obatan ( dosis tinggi ACE inhibitor, AT1 reseptor antagonists )<br />
g.	Lain – lain ; hiperparatiroid/osteitis fibrosa, intoksikasi aluminium, hemoglobinopati seperti talasemia ß dan sickle cell anemia, defisiensi asam folat dan vitamin B12, mieloma multiple dan mielofibrosis, hemolisis, keganasan.</p>
<p>Catatan	:<br />
-	Bila ditemukan penyebab respon EPO tidak adekuat, tunda terapi EPO, tanggulangi dahulu penyebab penyakit penyerta.<br />
-	Bila penyebab tidak ditemukan, lakukan evaluasi anemia lebih lanjut (konsultasi hematology).<br />
-	Perhatikan cara penyimpanan EPO yang dapat mengganggu efektifitas. Seharusnya EPO tetap disimpan pada suhu 2 – 8 º C.<br />
-	Kadar CRP (C-reactive protein) yang tinggi merupakan predictor terjadinya EPO resisten.</p>
<p>Sumber :<br />
PERNEFRI. Konsensus : Manajemen Anemia Pada Pasien Gagal ginjal Kronik. Jakarta. 2001</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=375&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/respon-epo-tidak-adekuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TERAPI EPO</title>
		<link>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/terapi-epo/</link>
		<comments>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/terapi-epo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 12:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>b11nk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hemodialisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://b11nk.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Syarat : Status besi cukup 1. Terapi EPO Fase Koreksi : Tujuan : Untuk mengoreksi anemia renal sampai target Hb / Ht tercapai a. Pada umumnya mulai dengan 2000 – 4000 UI subcutan, 2 – 3 X seminggu selama 4 minggu. b. Target respon yang diharapkan : Hb naik 1 – 2 g/dL dalam 4 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=373&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syarat 	: Status besi cukup</p>
<p>1.	Terapi EPO Fase Koreksi	:<br />
Tujuan	:<br />
Untuk mengoreksi anemia renal sampai target Hb / Ht tercapai<br />
a.	Pada umumnya mulai dengan 2000 – 4000 UI subcutan, 2 – 3 X seminggu selama 4 minggu.<br />
b.	Target respon yang diharapkan : Hb naik 1 – 2 g/dL dalam 4 minggu atau Ht naik 2 – 4 % dalam 2 – 4 minggu.<br />
c.	Pantau Hb, Ht tiap 4 minggu<br />
d.	Bila target respon tercapai : pertahankan dosis EPO sampai target Hb tercapai ( &gt; 10 g/dL ).<br />
e.	Bila target respon belum tercapai naikkan dosis 50 %.<br />
f.	Bila Hb naik &gt; 2,5 g/dL atau Ht naik &gt; 8 % dalam 4 minggu turunkan dosis 25 %.<br />
g.	Pemantauan status besi :<br />
Selama terapi EPO pantau status besi, berikan suplemen sesuai dengan pantauan terapi besi.<span id="more-373"></span><br />
2.	Terapi EPO Fase Pemeliharaan<br />
a.	Dilakukan bila target Hb sudah tercapai ( &gt; 10 g/dL ).<br />
Dosis : 2 atau 1 kali 2000 IU / minggu<br />
Pantau Hb dan Ht setiap bulan<br />
Periksa status besi setiap 3 bulan.<br />
b.	Bila dengan terapi pemeliharaan Hb mencapai &gt; 12 g/dL ( dan status besi cukup ) maka dosis EPO diturunkan 25 %.<br />
3.	Terapi Besi Fase Pemeliharaan<br />
a.	Tujuan 		:<br />
Menjaga kecukupan persediaan besi untuk eritropoisis selama terapi EPO.<br />
b.	Target Terapi	:<br />
Feritin serum &gt; 100 µg/L &#8211;  20 % &#8211;  500 g/L atau saturasi tranferin &gt; 40 %, suplementasi besi dihentikan selama  3 bulan.<br />
g.	Bila pemeriksaan ulang setelah 3 bulan feritin serum &lt; 500 µg / L dan saturasi tranferin &lt; 40 %, suplementasi besi dapat dilanjutkan kembali dengan dosis 1/3 – ½  sebelumnya.</p>
<p>Catatan		:<br />
-	Karena berat badan rata – rata pasien HD di Indonesia 50 – 60 kg maka dosis 80 – 150 IU /kgBB/minggu setara dengan 2000 – 4000 IU / kali HD<br />
-	Pemberian EPO subcutan dapat dilakukan dapat dilakukan sebelum, saat atau setelah HD selesai.</p>
<p>Sumber :<br />
PERNEFRI. Konsensus : Manajemen Anemia Pada Pasien Gagal ginjal Kronik. Jakarta. 2001</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/b11nk.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/b11nk.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=b11nk.wordpress.com&amp;blog=7045656&amp;post=373&amp;subd=b11nk&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://b11nk.wordpress.com/2011/02/04/terapi-epo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-7.528394 109.294534</georss:point>
		<geo:lat>-7.528394</geo:lat>
		<geo:long>109.294534</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b45a8b3d28b1d28edf31223969931781?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">b11nk</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
