HEMODIALISIS PADA ANAK

Tindakan Hemodialis (HD) pada anak merupakan tindakan yang jarang dilakukan akan tetapi sering terpaksa dilakukan dalam rangka penyelamatan hidup terutama pada pasien yang datang terlambat. Kesulitan yang sering dihadapi terutama dalam akses vaskular baik karena pembuluh darah yang kecil maupun tidak tersedianya double lumen catheter khusus untuk anak maupun pengalaman yang masih kurang.
Dilaporkan satu kasus, seorang anak wanita D, usia 8 tahun masuk rumah sakit dengan penurunan kesadaran sejak 2 hari sebelumnya disertai dengan sesak nafas, mual dan muntah dan tidak ada buang air kecil. Kesadaran apatis, tekanan darah 140/110, frekuensi jantung: 120 kali per menit, frekuensi pernafasan 48 kali per menit (cepat dan dalam), berat badan pasien saat itu 18 kg dengan tinggi badan 109 cm. Pasien tampak pucat, edema pada kelopak mata, tekanan vena jugularis meninggi, dan dijumpai ronki basah pada basal paru. Asites pada abdomen dan edema pada pretibia dijumpai. Pemeriksaan laboratorium saat itu: Hb 5,4 g/dL, lekosit 17.700/mm3, ureum 427 mg/dl, creatinin 21,6 mg/dL analisis gas darah: pH 7,337, pCO2 14,5 mmHg, PO2 146,6, bikarbonat 7,6, total CO2 8,1 BE -15. Hasil urinalisis: protein (++), eritrosit 40-60/lpb, lekosit 10-20/lpb, dijumpai cast eritrosit. Pasien didiagnosis sebagai Gagal Ginjal Kronik ec GNK dengan metabolik asidosis dan uremic encephalopathy dan segera dilakukan tindakan hemodialisis (HD) disertai substitusi bikarbonat. Hemodialisis dilakukan 2 kali seminggu dengan akses femoral, secara bertahap pasien membaik, sadar dan mampu berkomunikasi aktif.
Kesulitan selama hemodialisis adalah mencari akses vaskular sehingga dilakukan pemasangan double lumen catheter (subclvian). Komplikasi terjadi setelah 2 minggu pasca pemasangan double lumen yaitu dijumpai pus pada daerah exite site, pasien demam tinggi dan segera dicabut. Kondisi pasien memburuk, pasien mengeluh sangat sesak sehingga harus tidur dalam posisi duduk dan hasil pemeriksaan EKG, ekokardiografi menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel yang sangat rendah (32%) .HD tetap dilanjutkan dan kembali dengan femoral akses. Kaeadaan umum berangsur membaik dan pemasangan double lumen kembali dilakukan dan .pasien diprogram untuk CAPD. Kondisi pasien tetap stabil dan insersi kateter tenckoff untuk CAPD berhasil dilakukan. Hemodialisis masih terus dilaksanakan sambil menunggu luka insersi sembuh (10-14 hari) untuk segera difungsikan. Pada hari ke 12 insersi Tenckoff pasien mengeluh sesak nafas berat, foto dada menunjukkan edema paru berat, sehingga dilakukan hemodialisis 3 kali seminggu, namun akhirnya pasien meninggal karena komplikasi gagal jantung dan sepsis.

Kata kunci : hemodiálisis pada anak, vaskular akses, double lumen catheter

Zulida Hafni, Junanti, Suriaty Oke Rina Damayanti, Tunggul Ch. Sukendar
Instalasi Hemodialisis RSUP H. Adam Malik Medan
Disampaikan dalam kegiatan :
Indonesian Nephrology Nurse Association (PPGII)
MEETING AND SYMPOSIUM 2008

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s